Anton Sihotang - Okezone
MEDAN- Ibu mana yang tidak sedih mengetahui anaknya diduga tertukar saat berada di rumah sakit. Iya inilah yang terjadi Suryanti (23), warga asal Tanah Rendah, Desa Kampung Baru, Kecamatan Bilah Barat, Rantau Prapat, Sumatera Utara.Senyum lebarnya terpancar setelah melahirkan bayi mungilnya di RSU RP pada 20 Oktober 2009 lalu. Saat itu dia diberitahukan telah melahirkan seorang bayi perempuan dengan kondisi sehat.
Anehnya sejak melahirkan, dia tidak diperbolehkan melihat sang bayi. Termasuk sang ayah Jumaidi (28), suami Yanti. Berselang tiga hari kemudian, Suryanti dikabarkan bayinya telah meninggal dunia akibat sakit. Alhasil, suami istri baru bisa melihat anak mereka ketika tak lagi bernyawa.
"Kata pihak rumah sakit melalui dr Ainal, anak kami kena penyakit jantung," ujar Yanti, menyebut info dari salah satu dokter di RSU RP, Sumatera Utara, saat melapor ke Mapolda Sumatera Utara, Selasa (21/6/2011).
"Padahal kata dokter, kondisinya sehat kok 3 hari kemudian anakku meninggal," sambungnya.
Karena meninggal, perawat meminta Junaidi membawa 7 lembar kain untuk membawa jenazah bayinya. Junaidi menambahkan, pada kain untuk membalut jenazah bayinya itu tertulis nama Jumiati.
Saat Yanti, panggilan Suryanti, melahirkan memang ada pasien yang juga melahirkan di RSU RP di waktu bersamaan. Jumiati juga dikabarkan melahirkan lewat caesar.
"Kata dokter bayi Jumiati juga berjenis kelamin laki-laki dan satu tabung dengan bayi saya," ucapnya.
Melihat segala keanehan itu Kartini (45), ibu mertua Yanti, pun ikut menyelidik. Diam-diam dia mencari rumah Jumiati, dan temuannya membuat kaget keluarga.
Kartini menjelaskan, bayi yang dilahirkan Jumiati bukan berkelamin laki-laki, melainkan perempuan. Ini tentu terbalik dengan pengakuan dokter yang menyebut bayi Jumiati lelaki.
“Karena itu saya yakin, bayi saya bukan laki-laki tapi perempuan. Dan sekarang bayi saya itu bersama Jumiati," beber yanti.
Atas dugaan tertukarnya bayi tersebut, Yanti melaporkan kasus itu ke polisi. Namu aduan ke Polres Labuhan Batu tak kunjung membuahkan hasil, Yanti melaporkan ke Mapolda Sumatra Utara
Dalam surat bernomor Pol: STPLP/1126/XII/2009/SPK-A, Junaidi memerkarakan manajemen RSU RP yang dinilai tidak professional
"Kami mendesak (Pihak Poldasu) agar pihak rumah sakit bertanggung jawab, juga Polisi yang menanganinya (pengaduan di Polres Labuhan Batu) saya duga juga ikut terlibat," tandas Kartini.
Samri Sinaga, keponakan Yanti ketika diwawancarai, menyesalkan kejadian ini. Pasalnya, ketika mereka mendatangi Mapoldasu, pihak kepolisian yang menerima pengaduan mereka hanya memberikan sepucuk surat pernyataan.
“Kami datang ke Polda untuk meminta keadilan, karena Polisi di Polres Labuhan Batu terkesan menutup nutupi kasus ini. Tapi pas kami datang ke Polda, polisi hanya memberika sepucuk surat untuk saya antarkan ke Polres Labuhan Batu, dan saya disuruh untuk menyampaikan surat itu kepada Kapolres-nya," ucapnya.
(kem)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar